November 24, 2011

Rusia Akan Buat Lima Kapal Selam Nuklir

Kapal selam Rusia (Reuters/Yuri Maltsev)
Satu kapal selam nuklir dibanderol Rp11,6 triliun (US$1,3 miliar).

VIVAnews - Pemerintah Rusia mengumumkan rencana pembuatan lima kapal selam tenaga nuklir sebagai salah satu upaya pembaruan persenjataan negara itu. Untuk modernisasi angkatan laut, pemerintahan Perdana Menteri Vladimir Putin menganggarkan US$9 miliar (Rp80,4 triliun).

Hal ini disampaikan Putin di galangan kapal Sevmash di Laut Putih ketika meresmikan kapal selam nuklir kelas Borei milik Rusia, Rabu 9 November 2011. Kapal selam ini dipersenjatakan rudal antar benua Bulava yang baru saja diujicoba.

"Saya yakin pelaksanaan program ini, baik dari sisi tujuan dan pendanaannya, akan dapat memodernisasi militer dan armada laut kita dalam skala besar," kata Putin, dilansir dari kantor berita Reuters.

Putin tidak menyebutkan lebih lanjut perihal program kapal selam nuklir tersebut. Namun, staf Sevmash yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan Rusia berencana membuat kapal selam nuklir kelas Yasen. Biaya pembuatan satu kapal diperkirakan seharga US$1,3 miliar (Rp11,6 triliun).

Dibandingkan kapal selam kelas Borei yang seharga US$759 juta (Rp6,7 triliun), Yasen jauh lebih besar. Yasen dipersenjatai dengan rudal jelajah, tidak membawa rudal balistik jarak jauh seperti Bulava.

Sampai saat ini belum ada tanda tangan kontrak antara pemerintah Rusia dengan perusahaan pembuat kapal selam. Juru bicara perusahaan pembuatan kapal Rusia mengatakan, masih dilakukan tawar menawar masalah harga antara kedua pihak.

Sebelumnya, berbicara masalah modernisasi militer Rusia, Putin meminta para pembuat senjata untuk mengurangi harga dan meningkatkan kualitas produk. Putin mengatakan, pemerintah Rusia menjamin keuntungan 35 persen yang akan diterima perusahaan pembuat senjata.

Angkatan laut Rusia mengambil porsi terbesar dari jatah anggaran peningkatan kapasitas kemiliteran Rusia. Rencananya, Rusia akan menghabiskan dana hingga US$653 miliar (Rp5.836 triliun) sebelum tahun 2020 untuk keperluan pembaruan persenjataan.

Sumber: Viva News

0 Comment:

Post a Comment