December 13, 2011

Anggaran Dipotong, Jutaan Tentara Amerika Nganggur


TEMPO.CO, Washington - Personel militer Amerika Serikat kini harus siap-siap gantung bedil lantaran pemerintah negeri Abang Sam itu akan memangkas anggaran pertahanan mulai tahun depan. Diperkirakan 1,5 juta tentara dan personel pendukungnya akan kehilangan pekerjaan dalam satu dekade.

Menurut Buck McKeon, Ketua Komisi Pertahanan dan Militer Kongres Amerika, dengan pemangkasan anggaran US$ 489 miliar pada 2012, 100 ribu anggota militer dari Angkatan Darat dan Korps Marinir akan purna tugas.

Tak hanya itu, 700 ribu masyarakat sipil yang terlibat dalam industri pertahanan juga akan diberhentikan dari tugas. "Angka ini akan bertambah hingga 1,5 juta orang jika Agustus mendatang parlemen menyetujui pemangkasan anggaran hingga US$ 600 miliar," kata dia seperti dikutip Reuters kemarin.

McKeon melontarkan pernyataan ini dalam sesi debat penyusunan beleid kebijakan pertahanan. Hingga kemarin, Kongres masih membahas besaran pemangkasan anggaran yang diperkirakan mencapai US$ 664,4 miliar.

Angka ini termasuk pemotongan anggaran dasar Pentagon sebesar US$ 530 miliar dan US$ 115,5 miliar untuk biaya perang di Afganistan dan Irak.

Pekan ini, rencananya Parlemen dan Senat Amerika akan melakukan voting jika pembahasan rancangan beleid ini mentok. Awal Januari, undang-undang ini harus segera disetujui Presiden Barack Obama.

Pemangkasan anggaran pertahanan ini merupakan tindakan penghematan belanja negara pertama yang dilakukan Parlemen dan pemerintah Amerika, sesuai kesepakatan yang diteken Agustus lalu. Pemangkasan belanja negara dilakukan demi mereduksi utang yang kini sudah mencapai US$ 14 triliun.

Nantinya, belanja pertahanan dibatasi hanya sebesar US$ 26,6 miliar. Sebanyak US$ 23,1 miliar dialokasikan untuk Departemen Pertahanan, sedangkan sisanya untuk biaya perang. Angka ini jauh di bawah usulan Obama yang mencapai US$ 40 miliar.

Kini, parlemen dan pemerintah Amerika pun resah lantaran angka pengangguran bakal melonjak drastis. Tapi yang lebih mengkhawatirkan, negara bakal kehilangan tenaga kerja strategis, mengingat sebelumnya para calon pengangguran itu memiliki fungsi vital.

"Kita seolah melempar orang-orang dengan pekerjaan penting ke jalanan. Ini berbahaya," kata anggota Kongres lainnya, Rob Bishop.


Sumber: Tempo

0 Comment:

Post a Comment