April 12, 2012

Produk Pertahanan Jadi Komoditi Utama Inggris di Indonesia

(MDN), Menyelamatkan perekonomian Inggris dari krisis ekonomi yang melanda Eropa menjadi agenda utama kedatangan Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Hal itu terlihat dari delegasi yang dibawa Cameron di mana PM Inggris ini membawa setidaknya 38 pebisnis dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini.
 
“Jika melihat dari komposisi delegasi yang dibawa Cameron, kebanyakan berisikan pebisnis sebanyak 38 orang, di antaranya adalah pengusaha di bidang industri pertahanan, “ papar Hariyadi Wirawan ketika dihubungi itoday, Kamis (12/4).

Hariyadi menilai mengapa bidang pertahanan menjadi penting, sebab Inggris terus memantau perkembangan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tidak hanya itu, Inggris tidak mau ketinggalan menikmati kue pertahanan Indonesia, dimana menteri pertahanan Indonesia, Poernomo Yusgiantoro memberikan perhatian yang cukup besar, dan diberi angin oleh SBY untuk mengembangkan pertahanan nasional.

“Inggris merasa teknologi mereka adalah salah satu yang tercanggih, walaupun harganya tidak murah. Siapa tahu, jika bisa meyakinkan Indonesia, maka Inggris memiliki pangsa pasar di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara yang selama ini dikuasai AS, Rusia dan Cina, “ jelas dosen Fisip UI ini.

Namun demikian, kerjasama Indonesia-Inggris kali ini dibayang-bayangi trauma masa lalu bagi Indonesia. Pasalnya, Inggris termasuk negara yang sering kali meributkan masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Misalnya saja, Inggris pernah mengembargo peralatan militer Indonesia yang dibeli dari negara asal band The Beattles ini ketika kisruh Timor Timur 1999, dimana Inggris tiba-tiba tidak mengirimkan sisa pesawat tempur jenis Hawk 200 beserta suku cadangnya yang dipesan Indonesia beberapa tahun sebelumnya.

Belum lagi masalah Papua, Inggris termasuk negara yang cerewet mengenai Papua, bahkan beberapa anggota parlemennya justru mendukung kemerdekaan Papua.

Namun Hariyadi memiliki pandangan lain. Jika melihat dari perkembangan dunia internasional sekarang, dengan adanya negara seperti Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan (BRICS), bagaimana mungkin negara sebesar Inggris bisa menghadapi BRICS, karena hal itu disebabkan kemampuan negara BRICS yang semakin besar.

Dengan keadaan seperti itu, menurutnya, saat ini akan jauh lebih mudah bagi Indonesia untuk menertibkan perusahaan asal Inggris. Indonesia akan memiliki daya tawar yang lebih tinggi dalam menghadapi Inggris.

Sumber : Itoday

0 Comment:

Post a Comment