May 17, 2012

Mengapa AS Menempatkan Kapal Perang di Singapura

(MDN), Senayan - Penempatan kapal jenis kombat USS Freedom Navy di Singapura menunjukkan bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) sangat memperhatikan kawasan Asia Tenggara. Penempatan kapal perang itu sekaligus menegaskan bahwa Singapura adalah mitra utama yang mewakili kepentingan AS.

Menurut anggota Komisi I DPR RI Mohammad Syahfan Badri Sampurno, situasi ini patut dicermati. Pemerintah Indonesia harus menyikapi dengan cerdas. "Ada apa di balik kebijakan Amerika Serikat itu? " kata Syahfan, Kamis (17/5).

Syahfan menduga kebijakan AS tersebut adalah untuk merespons situasi terkini, yakni konflik antara China dan Filipina terkait klaim kedua negara terhadap Scarboroug Shoal--pulau kecil di Laut China Selatan. Kemungkinan lain, pemerintah AS berjaga-jaga jika terjadi konflik jangka panjang akibat meningkatnya aktifitas Angkatan Laut China di Laut China Selatan. Tapi jika itu maksud AS, kata Syahfan, mestinya kapal perang USS Freedom Navy ditempatkan di Filipina, Taiwan, atau bahkan Jepang.

Alhasil, penempatan kapal perang di Singapura memicu kecurigaan. Boleh jadi hal itu berhubungan dengan Indonesia atau sepaket dengan peningkatan kekuatan marinir AS di Australia. "Pertanyaannya, pesan apa yang mau disampaikan AS kepada RI? Inilah yang harus dibaca agar pemerintah kita tidak salah dalam mengambil kebijakan terutama yang berkaitan dengan kepentingan AS," katanya.

Menurut politisi PKS ini,
“AS berkepentingan ekonomi terhadap Indonesia yang berpenduduk 240 juta. AS tak ingin pasar Indonesia yang besar ini didominasi produk China”
AS berkepentingan ekonomi terhadap Indonesia yang berpenduduk 240 juta. AS tak ingin pasar Indonesia yang besar ini didominasi produk China. Dalam hal bisnis alutsista misalnya, Indonesia termasuk pasar potensial. Tingkat belanjanya terus meningkat tiap tahun.

Amerika punya pengalaman soal bisnis alutsista dengan Indonesia. Mereka pernah mengembargo pasokan alutsista. Kebijakan itu lalu disikapi Kementerian Pertahanan RI dengan melakukan diversifikasi alutsista. Perangkat dan persenjataan untuk tentara Indonesia tak hanya dibeli dari Barat, tapi juga dari negara lain. Muncullah kompetisi semisal antara tank Leopard versus T-72 Rusia, F-16 versus Sukhoi, dan sebagainya. Sumber pengadaan alutsista yang variatif itu membuat Amerika Serikat dan Barat tak lagi dominan di bisnis ini.

"Soal dagang inilah yang harus jadi basis pemikiran dalam merespons apa yang kita lihat sebagai peningkatan kekuatan militer AS di Singapura dan Australia," kata Syahfan

Sumber: Jurnal Parlemen

0 Comment:

Post a Comment