July 22, 2012

Era Rudal Indonesia

(MDN), Tanggal 25-26 Juli 2012 bisa menjadi hari bersejarah bagi dunia militer dan dunia teknologi Indonesia. Republik Indonesia akan memasuki babak baru dengan lompatan yang sangat signifikan di bidang peluru kendali. 

Di hari itu Kementerian Pertahanan akan kedatangan tamu istimewa dari China, untuk menetapkan perjanjian dimulainya alihteknologi pengembangan produksi bersama peluru kendali C-705 yang digunakan TNI Angkatan Laut.
 
China setuju untuk membangun pabrik pembuatan rudal C-705 di Indonesia dan siap berbagi teknologi sejak awal pembuatan rudal. PT Pindad telah menyiapkan lahan sebagai tempat perakitan rudal C-705. Kementerian Pertahanan juga menyiapkan pasokan bahan baku roket (propelan) yang pabriknya baru dibangun di Kalimantan.

Spesifikasi rudal C-705:

Anti-Kapal Permukaan
Jangkauan: 75 km; 170 km dengan second stage.
Penjejak: Radar, TV, Infra Merah, Mid-course guidance, GPS / GLONASS.
Warhead: 110 Kg
Engine: Solid rocket
Cruise altitude: 12.15 meter (lowest)
Ukuran Target: Kapal berbobot hingga 1500 ton.
Launching platform: Aircraft, Surface vessels, Vehicles
Kill probability: > 95.7%

Jika kerjasama itu ditandatangani pada tanggal 25 Juli 2012, maka kemampuan tempur Indonesia akan berubah secara signifikan.

Sudah belasan tahun pakar-pakar LAPAN bekerja menciptakan berbagai jenis roket. Tahun demi tahun ujicoba roket balistik dijalani dengan penuh ketabahan. Hasilnya diameter roket bisa diperbesar menjadi RX 420, RX 550 dan RX 750. 

Roket berdiameter besar berhasil dibangun, setelah PT Krakatau Steel menciptakan tabung roket berdiameter 0,55 meter, seperti yang diinginkan LAPAN. 

Sebelumnya bahan bakar roket pun diimpor dari luar negeri. Kini propelan itu mulai diproduksi di dalam negeri.

Namun ada satu teknologi yang belum dikuasai LAPAN, yakni bagaimana agar roket itu bisa dikendalikan alias, menjadi peluru kendali. Negara yang bisa membuat peluru kendali memang sangat sedikit. Jika Indonesia berhasil menguasai teknologi ini, maka kelas dan derajat Indonesia akan naik di mata dunia Internasional.

Melalui rudal C-705 diharapkan para pakar roket Indonesia mampu mengadopsi teknologi guided missile. Roket-roket Indonesia seperti RX 0707.01, RX 0707.02, RX 0807.01, RX 1110.01, RKX 100S, RKX 10C, RX1512.02, RX1515.01, RX 1712.01, RX 2428.04 DAN RX 2728.01, RX 420, RX 550,RX 750 bisa berubah menjadi peluru kendali.

Peluru-peluru kendali tersebut bisa ditempatkan di kapal ataupun di berbagai pulau di Indonesia. Ribuan pulau-pulau Indonesia akan berubah menjadi semacam destroyer atau kapal induk yang siap menyergap setiap kapal laut maupun pesawat tempur yang hendak masuk ke wilayah Indonesia.

Jika proyek kerjasama pembuatan rudal C-705 ini kembali gagal, berarti memang ada yang gak beres dengan manusia yang bernama “Orang Indonesia”. Pihak China sudah menyatakan kesiapannya dan malah balik menantang kapan proyek itu akan dimulai. “Go and get it, Mister…!”.

Ibarat perlombaan lari, Indonesia bisa dikatakan belum juga masuk garis finish, sementara peserta lain telah makan di rumah atau bahkan tidur ngorok. What’s wrong with us ?.

Pada tahun 1960-an, Indonesia bersama dengan India, China, Pakistan dan Korea Utara belajar membuat rudal ke Uni Soviet. 

Rudal-rudal Uni Soviet itu dibawa ke Indonesia. lebih jauh lagi, rudal itu pun dibelah dua (dibedah), agar orang Indonesia bisa mempelajarinya. Tidak itu saja, pakar rudal Uni Soviet pun didatangkan Ke Indonesia untuk membantu para teknisi Indonesia. Praktek lapangan dari para ahli rudal Uni Soviet ini, dilakukan di Pameungpeuk Garut, Jawa Barat.

Awalnya Indonesia seperti siswa yang cerdas. Munculah Roket pertama yang diberi nama Kartika I. Namun setelah roket itu berhasil diluncurkan, Indonesia memutuskan keluar dari sekolah, padahal masih sekolah di bangku SD.

Sementara China, India, Pakistan dan Korea Utara terus melanjutkan sekolah dan kini telah menjadi sarjana dengan nilai Cum Laude. Mereka berhasil membuat peluru kendali dengan hulu ledak nuklir.

Melihat teman-teman seangkatannya telah sukses, Indonesia pun berpikir ulang untuk kembali melanjutkan sekolah. Dalam hatinya berkata “Tidak ada kata terlambat dalam belajar (sambil meunuduk tersipu malu). 
 
Namun apa daya guru yang mengajarinya pada tahun 1960-an telah meninggal dunia (Uni Soviet). Untunglah ada teman seangkatan yang mau membantu ,dari Sekolah Jakarta-Peking-PyongYang. 
 
“Sudah….sekarang belajar dulu membuat peluru kendali jarak pendek aja. Gak usah macam-macam deh…nanti bolos sekolah lagi”, ujar negara China.
 
Materi pelajaran yang disiapkan China antara lain: Alih teknologi rudal dari proses awal, Perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, “up-grade” rudal dan pelatihan.
 
Produksi dan pemasaran bersama atas produk persenjataan tertentu antara lain peluru kendali C-705. Jika rudal itu berhasil dibuat, maka setiap pembeliannya oleh pihak lain harus dilakukan antarpemerintah “G to G”.
 
Itulah materi “sekolah” yang ditawarkan China.
 
China telah menawarkan les privat bagi Indonesia, untuk mengejar ketinggalannya dalam ilmu peluru kendali. Apakah Indonesia akan ikut les privat itu atau kembali mabal alias bolos seperti dulu kala. Kita lihat saja nanti.

Sumber: JKGR

0 Comment:

Post a Comment