July 5, 2012

TBH: Hibah Hercules dari Australia Bisa Batal

RAAF Hercules C-13H (Foto: Airlines.net)
(MDN), Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Tubagus Hasanuddin, mengatakan hibah empat unit Hercule C-13- H bisa saja dibatalkan oleh Komisi Pertahanan. Meski sudah ada kesepakatan antara kedua negara, keputusan itu belum final. "Harus dibahas dengan DPR, jika setuju barang itu baru bisa didatangkan," kata Hasanuddin di Kompleks Gedung DPR, Senayan, Rabu, 4 Juli 2012.
 
Pemerintah baru saja menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Australia untuk menerima Hercules dengan status 'unserviced'. "Memorandum of Understanding sudah ditandatangani," ujar Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsoedin.

Hasanuddin menilai penerimaan hibah empat unit hercules C-130 H dari Australia aneh. "Daripada menerima hibah, lebih baik pemerintah membeli Hercules baru," katanya. Menurut Tubagus untuk biaya operasional dan perbaikan hercules bekas itu pemerintah membutuhkan biaya US$ 15 juta per unit.

Padahal di saat yang sama pemerintah Australia juga menawarkan pembelian 6 unit pesawat Hercules sejenis yang siap operasional dengan harga US$90 juta. "Apa gunanya hibah kalau harga perbaikan sama dengan harga jual," kata Tubagus.

Tubagus mengatakan pemerintah belum pernah membicarakan pengadaan Hercules hibah ini dengan detail. Sebelumnya pemerintah baru membicarakan rencana hibah, namum batal dilakukan. Baru pada awal 2012 pemerintah menyampaikan ulang bahwa hibah 4 pesawat dari Australia itu terlaksana. "Yang aneh biayanya jadi sama dengan harga pesawat baru."

Namun juru bicara Kementerian Pertahanan, Hartind Asrir, membantah tudingan tersebut. Menurut dia, harga jual pesawat buatan Lockheed Martin dari Amerika Serikat itu dalam kondisi prima mencapai US$ 50 juta per unit. Berdasarkan penelusuran di laman Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, harga Hercules tipe C-130 H berkisar US$ 30 juta sebuah.

Dia menjelaskan, biaya perbaikan US$ 60 juta baru kalkulasi kasar. Jumlah persisnya bergantung pada hasil pemeriksaan. "Nilai itu belum pasti, tergantung hasil pemeriksaan tim teknisi kami yang akan terbang ke Australia pekan depan,” kata Hartind, yang memperkirakan tim teknisi akan terbang ke Benua Kanguru sekitar 10 atau 11 Juli mendatang. 

Hercules hibah dari Australia, menurut Hartind, amat dibutuhkan oleh Indonesia. Dari satu skuadron Hercules C-130H (satu skuadron terdiri atas 16 unit) yang bermarkas di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, hanya tersisa sekitar 12 unit yang siap terbang.

Sumber: Yahoo

0 Comment:

Post a Comment