January 29, 2013

Oldies…Yet Still Goodies, SP-1 Reborn

(MDN), Rupanya bagi Pindad tidak hanya tembang lawas yang membangkitkan kenangan. Sang veteran Perang tua SP-1 dibangkitkan kembali dengan sejumlah perubahan yang membuatnya sesuai untuk pertempuran abad ke-21.


Setidaknya semangat ini yang meruap saat ARC datang ke Rapim TNI di Cilangkap. Seperti biasa, sejumlah alutsista hasil riset nampak dipamerkan. Berbeda dengan Rapimnas beberrapa tahun lalu dimana Pindad menyajikan SS-4 battle rifle yang mengadopsi munisi 7,62x51mm NATO, tahun ini Pindad kembali membangkitkan salah satu produk lawasnya ke dalam wujud yang baru. SS-4 sudah tak ditampilkan, walau Pindad tak memberi alasan. 
ARC sendiri meyakini bahwa bobot senjata yang kelewat berat menyebabkan SS-4 menjadi tidak diminati. Produk senjata sejenis buatan Negara lain seperti Mk17 Mod 0 SCAR dan Beretta ARX-200 sudah menampilkan receiver bawah yang terbuat dari polimer. Jujur untuk teknologi polimer Pindad memang ketinggalan, jadi untuk sementara SS-4 memang harus kembali ke meja desain.

Nah, di Rapim TNI 2013 ini Pindad menghadirkan kejutan lama tapi baru, dalam bentuk SP1 yang dimodifikasi. Senapan SP-1 yang dilisensi dari Pietro Beretta S.A. BM-59 merupakan pengembangan lebih lanjut dari M1 Garand, sama seperti AS mengembangkan M1 Garand menjadi M14. Kedua battle rifle terakhir dalam sejarah masing-masing Negara ini memanfaatkan peluru 7,62x51mm full power cartridge. Keduanya juga cukup kenyang asam garam pertempuran. M14 digunakan secara meluas pada awal sampai pertengahan Perang Vietnam, sementara BM-59 yang dilisensi Pindad sebagai SP-1 digunakan pada konfrontasi Dwikora sampai masa Operasi Seroja. Namun maaf saja, karena tooling dan metode produksi Pindad yang masih terbatas, SP-1 kurang begitu disukai karena sering macet, dan bobotnya kelewat berat. RPKAD sebagai pengguna pertama lebih memilih AK-47, sementara unit lain seperti Resimen pelopor memiliki AR-15. SP-1 lebih banyak dibagikan ke sukarelawan atau milisi di Timor-timur. Beberapa kendala yang sering terjadi di lapangan adalah rumah pelatuk yang sering lepas, atau gas plug yang melesat karena kurang dikencangkan.

Tapi…kelemahan itu sudah lama berlalu. ARC memergoki bentuk evolusi terakhir dari SP-1 pada Rapim TNI kali ini. Bentuknya, bukan sekilas lagi, benar-benar mirip dengan M14 yang diimbuhi Sage Chop Mod Stock dan bersalin rupa menjadi Mk14 Mod 0 EBR (Enhanced Battle Rifle) untuk USSOCOM. AD AS juga menggunakan senapan sejenis sebagai AMU (Army Marksman Unit) Rifle. SP-1 modifikasi ini dipasangi dengan Chop stock, sehingga keseluruhan popornya diganti dengan alumunium. Dibanding popor kayu asli SP-1, receiver logam ini tentu saja jauh lebih sangar dan menebar aura mematikan. Rel menghiasi seluruh kuadran senapan. Untuk menyesuaikan dengan ukuran bahu dan lengan, SP-1 ini dilengkapi dengan popor tarik yang bersandar pada tiang berbentuk tubular. Karena bagian bawah pun sudah dipenuhi rel, maka untuk pegangan tangan disediakan pegangan yang benar-menar mirip seperti Kydex handgrip pada Mk14 Mod 0 EBR, pada SP-1 ini berwarna hitam. Untuk menyangga senjata, disediakan bipod Harris model LT.
Selebihnya, tampilan senapan ini memang jadi agak antiklimaks. Sebagai senapan tembak jitu, senapan ini tampil polos tanpa teleskop, padahal untuk produk-produknya yang lain Pindad biasa menempelkan aksesoris. Saat ditanya ke staf Pindad yang menjaga, ternyata SP-1 mod ini belum ada yang memesan, bahkan belum diberi nama secara resmi. Sementara Pindad menamainya sebagai senapan Dopper. Dopper atau doppering merupakan praktek latihan prajurit yang menggunakan munisi hidup, dimana siswa latih harus merayap diantara hujan tembakan peluru tajam. Biasanya doppering dipraktekkan sebagai silabi latihan pasukan berkualifikasi khusus seperti Paskhas, Kopassus, atau Kopaska. Senapan yang digunakan umumnya adalah AK-47, yang pelurunya menancap ke tanah saat ditembakkan, tidak terpental atau ricochet/ rekoset. Satu fakta menarik adalah ketika marking senapan ini dicermati lebih lanjut. Tereta marking Made by Pindad M1PM, lisensi dari Australia. Lho kok??


Sumber: ARC












0 Comment:

Post a Comment