March 27, 2013

Brigadir Jenderal TNI Purwadi Mukson, S.IP Sang Macan dan Martabat Garuda

(MDN), Suatu hari di bulan Nopember 1945. Kala itu pasukan Inggris tengah gencar-gencarnya membombardir Surabaya. Gelegar bom, mortir serta rentetan suara senapan membakar seisi kota. Dengan dalih balas dendam atas tewasnya Jenderal AWS Mallaby, terselip niat Inggris untuk menjajah Indonesia. Namun arek-arek Suroboyo tak tinggal diam. Mereka merencanakan suatu penyerangan ke kedudukan pasukan Inggris di HBS Straat.

Di tengah sengitnya pertempuran, salah seorang pemuda pejuang  bernama Soebiantoro yang memimpin pasukan 14 melihat satu unit tank tergeletak di sebuah bengkel. Dia beserta rekannya, yakni Ibnu Arli dan Sasmito, menghampiri tank Vickers peninggalan tentara Jepang. Kondisi mesin tank tersebut rusak. Senjata kaliber 12,7 mm yang menempel pun sudah tidak berfungsi. Oleh Soebiantoro, kendaraan tempur itu diperbaiki dan ternyata berhasil. Tank tersebut dikemudikan lantas dipakai untuk bertempur. Akhirnya bendera putih nampak berkibar di atas gedung HBS. Pasukan Inggris menyerah.


Demikan sepenggal kisah penggunaan tank dalam pertempuran 10 Nopember 1945 sesuai yang dikisahkan oleh pemuda Biantoro dan Ibnu Arli selaku saksi hidup. Peristiwa itu kemudian mengilhami berdirinya Satuan Kavaleri di Indonesia.

Dalam perjalanannya, Satuan Kavaleri telah terlibat dalam berbagai operasi militer. Antara lain Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Operasi Penumpasan G 30 S/ Partai Komunis Indonesia dan Operasi Seroja di Timor Timur. Selain itu, Korps Baret Hitam juga turut dalam operasi militer selain perang. Misalnya membantu penanganan bencana dan kegiatan yang bersifat sosial lainnya. Seperti slogan satuan: “Berjaya di Masa Perang dan Berguna di Masa Damai.”

Kini genap 63 tahun Satuan Kavaleri mengabdi. Selama itu pula Korps Baret Hitam telah membuktikan eksistensinya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Kita bersyukur di usia yang semakin matang Satuan Kavaleri TNI Angkatan Darat telah dan sedang membenahi diri menuju profesionalisme prajurit dan satuan,” kata Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri Kodiklat TNI AD, Brigadir Jenderal TNI Purwadi Mukson, S.IP.

Yang paling membanggakan, pada HUT ke-63 Kavaleri TNI AD bakal diperkuat Main Battle Tank (MBT) Leopard 2 revolution. Sebagai kendaraan tempur berkelas dunia, Tank Leopard 2 RI menjadi senjata pamungkas dalam pertempuran darat. Harapannya “Sang Macan” mampu meningkatkan kredibilitas dan kesetaraan prajurit TNI AD dalam kancah pergaulan kerjasama militer dengan negara asing, khususnya ASEAN.

Pengadaan MBT sendiri telah melalui berbagai tahap pengkajian panjang dan mendalam. Berbagai faktor dipertimbangkan dengan matang dalam mendukung rencana pembelian Tank MBT tersebut. Mulai dari faktor ancaman – baik yang aktual maupun potensial, peta kekuatan militer negara-negara tetangga yang berbatasan langsung dengan wilayah Indonesia. Modernisasi kendaraan tempur juga menjadi efek penangkal (deterrent effect) dan meningkatkan posisi tawar (bargaining position) Indonesia dalam percaturan diplomasi internasional.

Kita tahu, selama puluhan tahun TNI hanya diperkuat tank ringan. Seperti AMX 13 buatan Prancis dan Scorpion made in Inggris. Padahal dalam dunia kemiliteran, tank ringan kurang diperhitungkan dalam gelar kekuatan. Apalagi usia kendaraan lapis baja tersebut rata-rata sudah uzur. “Ketika datang pertama kali tank tersebut dikemudikan seorang tentara berpangkat Letnan. Sampai Si Letnan itu pensiun tanknya masih saja dipakai,” ucap pria kelahiran Jakarta 53 tahun silam ini sambil tertawa. Akibatnya negeri jiran kerap memandang sebelah mata militer Indonesia.

Walhasil pengadaan alutsista Main Battle merupakan keniscayaan. Sebab negara tetangga telah memiliki MBT lebih dulu. Malaysia memiliki 48 buah MBT (PT91M) buatan Polandia dengan meriam kaliber 125 mm. Australia memiliki 59 M1A1SAs (MBT Abrams) yang  dibeli dari Amerika Serikat pada tahun 2006, untuk menggantikan AS1 Leopard pada tahun 2007. Singapore yang hanya seluas Jakarta memiliki 66 MBT Leopard 2A4 sejak tahun 2008.

Dan pemilihan MBT Leopard 2 untuk memperkuat satuan kavaleri TNI AD sangatlah tepat. Betapa tidak, di dalamnya sarat akan asupan teknologi terkini. Berbasis tank Leopard 2 A4, ada tambahan 7 macam teknologi. Bentuknya sangat futuristik. Ketangguhan dan daya jelajahnya telah teruji di berbagai palagan, baik di gurun maupun perkotaan. Tank Leopard 2 cocok pula dengan kondisi tanah di Indonesia. Boleh dikatakan Leopard 2 RI adalah yang paling tangguh di kawasan Asia Tenggara.

Sebelum menjatuhkan pilihan kepada tank Leopard 2, sebenarnya TNI AD telah menjajal beberapa MBT. Yakni Tank Abrams M1A2 buatan Amerika, Tank Leclerc bikinan Prancis, Tank T 90 punya Rusia, MBT 2000 made in China dan Tank Oplot dari Ukraina. Dari hasil kajian Pussenkav dengan mempertimbangkan bobot dan fasilitas pendukung, akhirnya terpilih Leopard 2 buatan Jerman.

”Abrams memang telah teruji di berbagai pertempuran tapi bahan bakarnya avtur (bahan bakar pesawat terbang) yang harganya mahal. Sedangkan Leopard 2 bisa diisi tiga jenis minyak. Bensin, solar, juga minyak tanah.  Jadi biaya operasionalnya mudah dan murah,” papar mantan Wakil Komandan Pussenkav ini.

Awalnya pembelian tank tempur utama (MBT) Leopard 2 menimbulkan polemik. Menurut Brigjen Purwadi Mukson, hal ini disebabkan karena kurangnya komunikasi dengan berbagai pihak terkait rencana kebutuhan MBT bagi Satuan Kavaleri TNI AD. “Komunikasi terus kami laksanakan secara intensif de-ngan berbagai pihak, termasuk dilaksanakannya Seminar dan Sarasehan oleh Pussenkav Kodiklat TNI AD yang mengundang Perwira Kavaleri aktif dan Perwira Kavaleri yang sudah purnawirawan. Pada akhirnya polemik dapat dituntaskan dengan baik dan secara umum memahami bahwa kebutuhan MBT merupakan tuntutan kebutuhan pertahanan,” jelasnya.

Terlepas dari semua polemik yang berkembang, toh Main Battle Tank Leopard 2 resmi dibeli pada pertengahan bulan Desember 2012. Kontrak pembeliannya ditandatangani oleh Kementerian Pertahanan RI dan Rheinmetall Landsystem selaku produsen dari Jerman. Tahun 2014 kendaraan tempur tersebut sebagian sudah datang ke Indonesia untuk memperkuat jajaran Satuan Kavaleri TNI AD.
Proses pengadaan Tank Leopard 2 melalui skema G to G (government to government). Artinya kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Federal Jerman. “Kita beli ke Jerman langsung tanpa melalui makelar. Kalau lewat makelar senjata, biaya bisa membengkak. Dengan demikian kita menghemat anggaran negara milyaran rupiah,” tandas alumnus Akademi Militer tahun 1982 ini. Langkah TNI Angkatan Darat tersebut menjadi percontohan dalam pengadaan alutsista.

Pembelian pun disertai transfer teknologi dan pengetahuan karena Undang-Undang mensyaratkannya. Jadi Indonesia melalui PT. Pindad memiliki kewenangan untuk merawat dan meng-upgrade MBT Leopard 2. Ini adalah tonggak kebangkitan industri pertahanan nasional. Harapannya, Indonesia akan mandiri dalam membuat alutsista. Bahkan menjadi produsen senjata terkemuka di dunia.

0 Comment:

Post a Comment