March 4, 2013

Melayang Bersama Pesawat KFX


 
(MDN), Pemerintah Korea Selatan tiba-tiba saja menunda kerjasama pembuatan pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) dengan Indonesia. 30 tenaga ahli penerbangan PT DI yang sudah berada di Korea Selatan selama 1,5 tahun akhirnya ditarik pulang ke Indonesia.


Menurut Duta Besar Korsel untuk Indonesia  Kim Young-Sun, penundaan pembuatan KFX  menunggu persetujuan transfer teknologi dari pemenang tender F-X III generasi 5.

Proyek F-X III adalah tender pengadaan 60 sampai 120 pesawat tempur yang diikuti oleh: Lockheed Martin F-35, Boeing F-15 Silent Eagle serta Eurofighter Typhoon, untuk menggantikan skuadron McDonnell Douglas F-4E Phantoms Korsel yang sudah tua. Pemenang kompetisi ini kemungkinan Lockheed Martin F-35 atau  Boeing F-15 Silent Eagle, karena menawarkan teknologi stealth. Pemerintah Korsel sendiri menargetkan pemenang tender bisa diputuskan pertengahan tahun 2013.

Pemerintah Korsel menyaratkan proyek pembelian pesawat tempur F-X III harus disertai dengan transfer of technology untuk pesawat tempur KFX/IFX generasi 4,5. Transfer teknologi itu akan diperoleh Korsel setelah ditandatanganinya proyek pembuatan F-X III.

Masih ada 8 item teknologi KFX yang belum dikuasai Korsel, antara lain  teknologi radar yang mungkin diminta dari Boeing atau Lockheed-Martin atau EADS untuk  diterapkan ke KFX/IFX. Termasuk juga untuk jenis mesin dan rudal.

Karena pembangunan KFX ini masih terkendala teknologi, pemerintah Korsel juga menarik   kembali dana $ 27 juta  yang dikucurkan tahun 2013 untuk KFX dan hanya menyisakan $ 4 juta untuk riset and development.  Menurut Dubes Korsel perusahaan swasta mereka tetap melakukan R&D terhafap KFX untuk beberapa komponen yang belum dikuasai. Dengan demikian proyek pembuatan KFX  tidak akan tertunda lama.  Penarikan dana tidak akan menganggu karena dana yang besar dibutuhkan ketika pemerintah memutuskan untuk membangun prototype KFX.
“Korsel yang dalam siaga perang dengan Korea Utara  tidak mungkin menunggu pesawat KFX hingga tahun 2020, sementara beberapa pesawat tempur mereka akan habis masa pakainya, seperti F-5. Mereka membutuhkan pesawat tempur modern yang datang dengan cepat”, ujar Sekjen Kemhan, Marsdya TNI Eris Herryanto di Jakarta.
Jika Korsel tidak mendapatkan ToT/offset yang dibutuhkan untuk KFX, konsekuensinya Korsel akan membeli radar serta beberapa teknologi lainnya.
Di tengah kevakuman itu, Korsel akan konsentrasi  ke pembelian pesawat generasi kelima dengan target  1,5 tahun selesai, dimulai awal tahun 2013.
kfxc1001.jpg
KFX/IFX
Dalam proyek KFX , pemerintah Indonesia berkontribusi 20%, selebihnya dibiayai pemerintah dan BUMN strategis Korsel. Proyek itu akan memproduksi pesawat tempur KFX/IFX atau F-33, generasi 4,5 masih di bawah F-35  AS generasi 5, namun di atas kemampuan F-16.
Pesawat KFX/IFX akan dibuat 250 unit, dari jumlah itu Indonesia akan mendapat 50 unit di 2020. Harga satu pesawat tempur ini sekitar US$ 70-80 juta per unit. Indonesia akan membelinya seharga US$ 50-60 juta/unit, karena ikut membangun.
Jadi 1,5 tahun tim kita ada di Korea. Kita 1,5 tahun sama-sama mendesain. Kita ada yang belajar dari Korea, dan Korea ada yang belajar dari kita (PT DI),” ujar Dirut PT DI  Budi Santoso.
Pemerintah Korea Selatan, menargetkan proyek KFX/IFX akan dimulai lagi pada tahun 2014. Apakah benar demikian ?.  Bisa iya, bisa juga mundur dari jadwal tersebut. Persoalannya adalah, sejauhmana Korsel bisa mendapatkan ToT 8 item KFX agar tepat waktu. Jika ToT tidak bisa didapatkan, tentu mereka harus membelinya dan harga pesawat akan berubah menjadi lebih mahal.
Semoga saja penundaan proyek KFX/IFX ini hanya kendala teknis, bukan politis, seperti ketika Indonesia membangun N-250 dan N2130 yang akhirnya berhenti di tengah jalan, karena ada negara besar yang merasa tersaingi. Tidak ada suatu lompatan besar diperoleh dengan mudah.
 
Sumber: JKGR

0 Comment:

Post a Comment